A. Tujuan
a. Mengidentifikasi
macam-macam komponen lingkungan pada duasistem ingkungan yang berbeda
b. Mengetahui
keterkaitan, atau interaksi antar komponen pada masing-masing sistem lingkungan
yang diperbandingkan
c. Menyatakan
pendapatnya tentang kesempurnaan masing-masing sistem di lingkungan
dibandingkan berdasar kepada kelengkapan komponen fungsional masing-masing
(setidaknya dari segi arus energi dan siklus materi)
d. Menyatakan
pendapatnya, gagasan atau
ide, tentang masing-masing sistem lingkungan yang diperbandingkan untuk pengelolaan
selanjutnya.
B. Kajian
Teoritik
Ilmu lingkungan mengintegrasikan berbagai ilmu yang
mempelajari hubungan antara jasad hidup dengan lingkungannya. Di dalam ilmu
lingkungan ditujukan terutama untuk menyatukan kembali segala ilmu yang
menyangkut masalah lingkungan kedalam variabel energi, materi, ruang, waktu,
dan keanekaragaman. Ekologi merupakan
salah satu ilmu dasar bagi ilmu lingkungan. Dalam ilmu lingkungan seperti
halnya dalam ekologi, jasad hidup pada dasarnya dipelajari dalam unit populasi.
Tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitras adalah ekosistem.
Dalam tingkat
organisasi, tidak hanya serangkaian spesies tumbuhan dan hewan, tetapi termasuk
segala macam bentuk materi yang melakukan siklus dalam materi tersebut, dan
energi yang menjadi sumber kekuatan bagi ekosistem. Sinar matahari merupakan sumber energi dalam
sebuah ekosistem, dimana oleh tumbuhan dapat diubah menjadi energi kimia dengan
membentuk karbohidrat melalui proses fotosintesis. (Soeriatmaja, 1975)
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh
hubungan timbal balik tak terpisahkan anatar makhluk hidup dengan
lingkungannya. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang
melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik
sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi
suatu siklus materi anatara organisme dengan anorganisme. (Hutagalung,2010)
Komponen-komponen penyusun ekosistem yaitu komponen
biotik dan abiotik. Komponen abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen
fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya
kehidupan. (Anomin,2000)
Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa
anorganik, dan faktor yang mempengaruhi distribusi organisme, yaitu suhu, air,
garam, cahaya matahari, tanah batu, dan iklim. Komponen biotik adalah suatu
komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik. Ketergantungan
antar komponen biotik dapat terjadi melalui 1. rantai makanan, yaitu
perpindahan materi atau energi melalui proses makan dan dimakan dengan urutan
tertentu. Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofi. Karena
organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan adalah tumbuhan maka
tingkat trofi pertama disebut produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat
trofi kedua, terdiri atas hewan pemakan tumbuhan yang disebut dengan konsumen
tingkat pertama, begitu pula seterusnya. Setiap pertukaran energi dari satu
tingkat ke tingkat trofi lainnya, sebagian energi akan hilang. 2. Jaring-jaring
makanan, yaitu rantai-rantai makana yang saling berhubungan satu sama lain
sedemikian rupa sehingga membentuk seperti jaring-jaring makanan. Keterkaitan antara
komponen abiotik dengan komponen biotik dpat terjadi melalui siklus materi. (Campbell,2009)
Ekosistem itu terus berkembang. Pada ekosistem alami yang
perubahannya hanya dipengaruhi oleh iklim tanpa ada faktor ganguan dari luar,
dalam kurun waktu tertentu dapat mencapai ekosistem klimaks yang pada kondisi
tersebut komponen ekosistemnya dinamis namun menuju ke arah keseimbangan
(Solomon, Martin, and Berg, 2008).
Dalam suatu ekosistem terdapat habitat yang komponennya
lebih kompleks dari yang lain. Kompleksitas komponen penyusun habitat ini
ditentukan oleh isolasi geografis, kerentanan habitat tersebut, dominansi
masing-masing spesies dan sejarah geografis (Solomon, Martin, and Berg, 2008).
C. Metode
Praktikum
a. Alat
dan Bahan
1. Termometer
2. Soilteseter
3. Lux
meter
4. Lup
5. Anemometer
6. Higrometer
b. Cara
Kerja
Menetapkan dua lokasi sebagai daerah studi : Kebun
biologi FMIPA UNY dan Halaman Lab. FMIPA UNY
|
Menentukan sample objek pada masing-masing lingkungan,
dan membuat ploting 1x1 (untuk faktor abiotik dan biotik kecuali tanaman)
|
Mengamati data dari masing-masing sampel lingkungan
dengan mengidentifikasi komponen lingkungan dengan segala kondisinya
|
D. Hasil
dan Pembahasan
a. Data
pengamatan di Kebun Biologi FMIPA UNY
Hasil Identifikasi
Komponen Lingkungan Kebun Biologi FMIPA UNY
|
||||
Komponen
Lingkungan
|
Macam
|
Ukuran
|
||
Abiotik
|
Tanah
|
Suhu
|
250C
|
|
Ph
|
6,1
|
|||
Kelembaban
|
70%
|
|||
Struktur
|
Pasir
|
|||
Tekstur
|
Remah
|
|||
Udara
|
Suhu
|
260C
|
||
Kelembaban
|
84%
|
|||
Intensitas
cahaya
|
580
Lux
|
|||
Kecepatan
Angin
|
||||
Biotik
|
Produsen
|
Beringin
|
++
|
|
Ketapang
|
++
|
|||
Johar
|
++
|
|||
Glodokan
|
+++
|
|||
Cleressede
|
++
|
|||
Lumut
|
+++
|
|||
Konsumen
|
Nyamuk
|
+++
|
||
Semut
|
+++
|
|||
Kecoa
|
++
|
|||
Cacing
|
++
|
|||
Serangga
|
+++
|
|||
Rayap
|
++
|
|||
Jangkrik
|
++
|
|||
Lalat
|
+++
|
|||
Kupu-Kupu
|
+
|
|||
Dekomposer
|
Jamur
|
+++
|
||
b. Data
pengamatan di Halaman Lab. FMIPA UNY
Hasil Identifikasi
Komponen Lingkungan Halaman Laboratorium FMIPA UNY
|
|||
Komponen
Lingkungan
|
Macam
|
Ukuran
|
|
Abiotik
|
Tanah
|
Suhu
|
240C
|
Ph
|
6,5
|
||
Kelembaban
|
60%
|
||
Struktur
|
Pasir
|
||
Tekstur
|
Remah
|
||
Udara
|
Suhu
|
26,50C
|
|
Kelembaban
|
85%
|
||
Intensitas
cahaya
|
325
Lux
|
||
KecepatanAngin
|
-
|
||
Biotik
|
Produsen
|
Rumput
|
+++
|
Rhoe
discolor
|
++
|
||
Beringin
|
+
|
||
Rambutan
|
+
|
||
Sawo
manila
|
+
|
||
cemara
|
+
|
||
Konsumen
|
Nyamuk
|
+++
|
|
Semut
|
+++
|
||
rayap
|
++
|
||
c. Pembahasan
Berdasarkan
pada data yang telah diperoleh, kami mengambil salah satu lokasi di Kebun
Biologi FMIPA UNY dan salah satu lokasi di depan Halaman Lab. FMIPA UNY yang
dilakukan oleh kelompok 8 dapat dilihat bahwa lingkungan pada lokasi Kebun
FMIPA UNY memiliki komponen biotik yang lebih banyak diantaranya yaitu : Beringin, Ketapang , Johar, Glodokan, Cleressede,
Lumut, Nyamuk, Semut, Kecoa, Cacing, Serangga, Rayap, Jangkrik,
Lalat, Kupu-Kupu, Jamur. Sedangkan dapat dilihat pula bahwa pada lokasi di
depan Halaman Lab. FMIPA UNY antara lain : Rumput , Rhoe discolor, Beringin,
Rambutan,
Sawo manila, Cemara, Nyamuk, Semut, Rayap. Perbedaan jumlah komponen biotik ini
tidak hanya tampak dari segi banyaknya macam jenis melainkan pada jumlah
individunya.
Dari
segi komponen biotik, indicator komponen yang digunakan untuk tiap-tiap lokasi
pengamatan adalah sama, hanya saja perbedaan tampak pada angka yang terbaca
pada tiap-tiap alat. Adapun hasil dari komponen abiotik dari tiap-tiap lokasi
adalah sebagai berikut: ekosistem kebun biologi
memiliki kelembaban udara yang lebih rendah (84%), temperatur tanah yang lebih
rendah (24oC), intensitas cahaya yang lebih tinggi (580 lux), pH
tanah yang lebih asam (6,1), kelembaban tanah lebih tinggi (75%), temperature
udara lebih rendah (26oC). Demikian pula sebaliknya, ekosistem
halaman laboratorium memiliki kelembapan udara yang lebih tinggi (85%),
temperatur tanah yang lebih rendah (24oC), intensitas cahaya yang
lebih rendah (325 lux), pH tanah yang lebih mendekati netral (6,5), kelembaban
tanah lebih rendah (60%), temperature udara lebih tinggi (26,5oC).
Selain itu perbedaan ada pada tekstur tanah yang dimiliki masing-masing
ekosistem juga berbeda.
Perbedaan jumlah komponen biotik akan
mempengaruhi kompleksitas dari daur energi dan materi pada masing-masing
sistem. Ekosistem kebun yang memiliki komponen biotik lebih banyak akan
mempunyai daur energi dan materi yang lebih kompleks. Semakin kompleks daur
energi ini maka akan semakin efektif dan efisien daur tersebut.
Kebun:
Halaman:
Daur energi suatu ekosistem dapat dilihat dari
rantai makanan yang mungkin terjadi antara komponen biotik yang diperoleh dari
hasil pengamatan yang ada. Ada beberapa kemungkinan rantai makanan yang terjadi
salah satunya sebagai berikut:
Kupu-Kupu
|
Beringin
|
Ketapang
|
Johar
|
Glodokan
|
Cleresede
|
Kecoa
|
Jangkrik
|
Rayap
|
Serangga Tanah
|
Nyamuk
|
Lalat
|
Semut
|
Jamur
|
Cacing
|
Lumut
|
Nyamuk
|
Rumput
|
Rhoe discolor
|
Rambutan
|
Beringin
|
Sawo
|
Cemara
|
Rayap
|
Semut
|
Dari
beberapa bagan di atas, pada lokasi kebun komponen rantai makan dan aliran
energy tampak lebih komplek dibandingkan dengan lokasi halaman. Pada rantai
makanan, tampak bahwa pada lokasi halaman tidak terlihat adanya detritivor hal
ini kemungkinan dikarenakan detritivor berurukuran mikro. Komponen berukuran
mikro ini misalnya bakteri.
Dari
data yang telah kami peroleh, bila sistem di alam ini diharapkan memiliki
perkembangan yang bersifat dinamik, maka lingkungan pada lokasi kebun memiliki
persyaratan lebih baik untuk perkembangan tersebut. Hal ini dikarenakan
beberapa hal sebagai berikut:
1. Komponen
fisik dan biologis yang lebih spesifik dan kompleks
2. Sedikit
dijamah oleh manusia
3. Minimnya
pengaruh Sosio-kultural dan sosio-ekonomis
4. Komponen-komponen
saling berpengaruh secara alami
E. Kesimpulan
dan Saran
1.
Komponen
abiotik merupakan komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat
tempat berlangsungnya kehidupan. Komponen biotik adalah komponen yang menyusun
suatu ekosistem selain komponen abiotik (organisme). Pada lingkungan kebun,
komponen abiotiknya yaitu tanah (suhu, pH, kelembaban, struktur tanah, tekstur
tanah) dan udara (suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya, kecepatan angin),
sedangkan komponen biotiknya, produsen (Beringin, Ketapang, Johar, Glodokan, Cleressede, Lumut), konsumen (Nyamuk, Semut, Kecoa , Cacing, Serangga, Rayap, Jangkrik, Lalat, Kupu-Kupu), dan dekomposer (jamur). Pada lingkungan
halaman Lab FMIPA UNY komponen abiotiknya adalah yaitu tanah (suhu, pH, kelembaban, struktur tanah,
tekstur tanah) dan udara (suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya, kecepatan
angin), sedangkan komponen biotiknya, produsen (Rumput , Rhoe discolor, Beringin, Rambutan, Sawo manila , cemara) dan konsumen (Nyamuk, Semut, rayap).
2.
Keterkaitan
atau interaksi antar komponen, yaitu komponen biotik dengan komponen abiotik
dapat diwujudkan melalui siklus materi, sedangkan interaksi antar komponen
biotik dengan komponen biotik dapat terjadi melalui jaring-jaring makanan.
3.
Dilihat
dari segi arus energi, lingkungan kebun merupakan suatu sistem yang dapat
dikatakan komplit. Karena komponennya lengkap, yakni jika diperbandingkan
antara Kebun Biologi dengan lingkungan halaman Lab FMIPA UNY, komponen biotik
pada kebun lebih lengkap, yakni mencakup produsen, konsumen, dan dekomposer.
4.
Lingkungan yang lebih tepat untuk dilakukan
pengelolaan lingkungan selanjutnya adalah lingkungan kebun, karena memiliki
komponen yang lebih kompleks dan lebih banyak daripada lingkungan halaman,
selain itu masih jarang mendapat pengaruh dari manusia dan sosio kulturnya,
oleh sebab itu, untuk pengelolaan lingkungan menjaga kelestarian dan
keseimbangan komponen yang terdapat di lingkungan kebun lebih perlu dilakukan
dari pada lingkungan halaman.
F. Diskusi
1. Berdasar pada data (makro) yang terkumpul, lingkungan
pada lokasi mana yang memiliki komponen lebih banyak?
2. Apakah komponen-komponen yang teramati secara makro
pada masing-masing lingkungan cukup untuk memenuhi untuk terjadinya proses
aliran energi?
3. berdasar pada kelengkapan komponen tersebut (yang
terlihat maupun tidak), lingkungan pada lokasi mana yang memiliki proses arus
energi dan siklus materi lebih baik?
4. Bila sistem lingkungan di alam diharapkan memiliki perkembangan
yang bersifat dinamik, maka di lokasi mana yang memenuhi persyaratan untuk itu?
Jawab:
1. Yang memiliki komponen lebih banyak adalah ekosistem
kebun
2. Ya, komponen yang teramati secara makro cukup untuk
memenuhi proses aliran energi mulai dari produsen sampai detrivor.
Komponen yang sebenarnya ada tapi tak teramati secara
makro adalah bakteri pendekomposisi.
3. Lingkungan yang memiliki proses arus energi lebih
cepat adalah yang di halaman karena komponennya lebih sedikit sehingga siklus
energi akan berjalan singkat dengan energi terbuang yang minim.
4. Sistem
lingkungan yang perkembangannya dinamis dapat terjadi di lingkungan Kebun
Biologi, karena :
1. Komponen
fisik dan biologis yang lebih spesifik dan kompleks
2. Sedikit
dijamah oleh manusia
3. Minimnya
pengaruh Sosio-kultural dan sosio-ekonomis
4. Komponen-komponen
saling berpengaruh secara alami
Daftar
Pustaka
Anonim.2000. Susunan dan Macam Ekosistem. Diakses pada
tanggal 11 Maret 2014.
Campbell NA, Reece JB.2009. Biology. USA: Person Benjamin Cummings
Hutagalung, RA. 2010. Ekologi
Dasar. Jakarta : Erlangga
Soeriaatmadja, RE. 1975. Ilmu Lingkungan. Bandung : Universitas ITB
Solomon EP, Martin DW, and Berg Linda R. 2008. Biology.8th.Ed. Belmont :Thomson
Brooks/Cole
Tidak ada komentar:
Posting Komentar