Senin, 05 Oktober 2015

Lingkungan Sebagai Suatu Sistem



A.    Tujuan
a.       Mengidentifikasi macam-macam komponen lingkungan pada duasistem ingkungan yang berbeda
b.      Mengetahui keterkaitan, atau interaksi antar komponen pada masing-masing sistem lingkungan yang diperbandingkan
c.       Menyatakan pendapatnya tentang kesempurnaan masing-masing sistem di lingkungan dibandingkan berdasar kepada kelengkapan komponen fungsional masing-masing (setidaknya dari segi arus energi dan siklus materi)
d.      Menyatakan pendapatnya, gagasan atau ide, tentang masing-masing sistem lingkungan yang diperbandingkan untuk pengelolaan selanjutnya.

B.     Kajian Teoritik
Ilmu lingkungan mengintegrasikan berbagai ilmu yang mempelajari hubungan antara jasad hidup dengan lingkungannya. Di dalam ilmu lingkungan ditujukan terutama untuk menyatukan kembali segala ilmu yang menyangkut masalah lingkungan kedalam variabel energi, materi, ruang, waktu, dan keanekaragaman.  Ekologi merupakan salah satu ilmu dasar bagi ilmu lingkungan. Dalam ilmu lingkungan seperti halnya dalam ekologi, jasad hidup pada dasarnya dipelajari dalam unit populasi. Tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitras adalah ekosistem.
 Dalam tingkat organisasi, tidak hanya serangkaian spesies tumbuhan dan hewan, tetapi termasuk segala macam bentuk materi yang melakukan siklus dalam materi tersebut, dan energi yang menjadi sumber kekuatan bagi ekosistem.  Sinar matahari merupakan sumber energi dalam sebuah ekosistem, dimana oleh tumbuhan dapat diubah menjadi energi kimia dengan membentuk karbohidrat melalui proses fotosintesis. (Soeriatmaja, 1975)
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan anatar makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi anatara organisme dengan anorganisme. (Hutagalung,2010)
Komponen-komponen penyusun ekosistem yaitu komponen biotik dan abiotik. Komponen abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan. (Anomin,2000)
Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang mempengaruhi distribusi organisme, yaitu suhu, air, garam, cahaya matahari, tanah batu, dan iklim. Komponen biotik adalah suatu komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik. Ketergantungan antar komponen biotik dapat terjadi melalui 1. rantai makanan, yaitu perpindahan materi atau energi melalui proses makan dan dimakan dengan urutan tertentu. Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama disebut produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas hewan pemakan tumbuhan yang disebut dengan konsumen tingkat pertama, begitu pula seterusnya. Setiap pertukaran energi dari satu tingkat ke tingkat trofi lainnya, sebagian energi akan hilang. 2. Jaring-jaring makanan, yaitu rantai-rantai makana yang saling berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperti jaring-jaring makanan. Keterkaitan antara komponen abiotik dengan komponen biotik dpat terjadi melalui siklus materi. (Campbell,2009)
Ekosistem itu terus berkembang. Pada ekosistem alami yang perubahannya hanya dipengaruhi oleh iklim tanpa ada faktor ganguan dari luar, dalam kurun waktu tertentu dapat mencapai ekosistem klimaks yang pada kondisi tersebut komponen ekosistemnya dinamis namun menuju ke arah keseimbangan (Solomon, Martin, and Berg, 2008).
Dalam suatu ekosistem terdapat habitat yang komponennya lebih kompleks dari yang lain. Kompleksitas komponen penyusun habitat ini ditentukan oleh isolasi geografis, kerentanan habitat tersebut, dominansi masing-masing spesies dan sejarah geografis (Solomon, Martin, and Berg, 2008).


C.     Metode Praktikum
a.       Alat dan Bahan
1.      Termometer
2.      Soilteseter
3.      Lux meter
4.      Lup
5.      Anemometer
6.      Higrometer

b.      Cara Kerja
Menetapkan dua lokasi sebagai daerah studi : Kebun biologi FMIPA UNY dan Halaman Lab. FMIPA UNY
Menentukan sample objek pada masing-masing lingkungan, dan membuat ploting 1x1 (untuk faktor abiotik dan biotik kecuali tanaman)
Mengamati data dari masing-masing sampel lingkungan dengan mengidentifikasi komponen lingkungan dengan segala kondisinya
 








D.    Hasil dan Pembahasan
a.       Data pengamatan di Kebun Biologi FMIPA UNY
Hasil Identifikasi Komponen Lingkungan Kebun Biologi FMIPA UNY




Komponen Lingkungan
Macam
Ukuran
Abiotik
Tanah
Suhu
250C
Ph
6,1
Kelembaban
70%
Struktur
Pasir
Tekstur
Remah
Udara
Suhu
260C
Kelembaban
84%
Intensitas cahaya
580 Lux
Kecepatan Angin

Biotik
Produsen
Beringin
++
Ketapang
++
Johar
++
Glodokan
+++
Cleressede
++
Lumut
+++
Konsumen
Nyamuk
+++
Semut
+++
Kecoa
++
Cacing
++
Serangga
+++
Rayap
++
Jangkrik
++
Lalat
+++
Kupu-Kupu
+
Dekomposer
Jamur
+++






b.      Data pengamatan di Halaman Lab. FMIPA UNY
Hasil Identifikasi Komponen Lingkungan Halaman Laboratorium FMIPA UNY




Komponen Lingkungan
Macam
Ukuran
Abiotik
Tanah
Suhu
240C
Ph
6,5
Kelembaban
60%
Struktur
Pasir
Tekstur
Remah
Udara
Suhu
26,50C
Kelembaban
85%
Intensitas cahaya
325 Lux
KecepatanAngin
-
Biotik
Produsen
Rumput
+++
Rhoe discolor
++
Beringin
+
Rambutan
+
Sawo manila
+
cemara
+
Konsumen
Nyamuk
+++
Semut
+++
rayap
++

c.       Pembahasan
Berdasarkan pada data yang telah diperoleh, kami mengambil salah satu lokasi di Kebun Biologi FMIPA UNY dan salah satu lokasi di depan Halaman Lab. FMIPA UNY yang dilakukan oleh kelompok 8 dapat dilihat bahwa lingkungan pada lokasi Kebun FMIPA UNY memiliki komponen biotik yang lebih banyak diantaranya yaitu :  Beringin, Ketapang , Johar, Glodokan, Cleressede, Lumut, Nyamuk, Semut, Kecoa, Cacing, Serangga, Rayap, Jangkrik, Lalat, Kupu-Kupu, Jamur. Sedangkan dapat dilihat pula bahwa pada lokasi di depan Halaman Lab. FMIPA UNY antara lain : Rumput , Rhoe discolor, Beringin, Rambutan, Sawo manila, Cemara, Nyamuk, Semut, Rayap. Perbedaan jumlah komponen biotik ini tidak hanya tampak dari segi banyaknya macam jenis melainkan pada jumlah individunya.
Dari segi komponen biotik, indicator komponen yang digunakan untuk tiap-tiap lokasi pengamatan adalah sama, hanya saja perbedaan tampak pada angka yang terbaca pada tiap-tiap alat. Adapun hasil dari komponen abiotik dari tiap-tiap lokasi adalah sebagai berikut: ekosistem  kebun biologi memiliki kelembaban udara yang lebih rendah (84%), temperatur tanah yang lebih rendah (24oC), intensitas cahaya yang lebih tinggi (580 lux), pH tanah yang lebih asam (6,1), kelembaban tanah lebih tinggi (75%), temperature udara lebih rendah (26oC). Demikian pula sebaliknya, ekosistem halaman laboratorium memiliki kelembapan udara yang lebih tinggi (85%), temperatur tanah yang lebih rendah (24oC), intensitas cahaya yang lebih rendah (325 lux), pH tanah yang lebih mendekati netral (6,5), kelembaban tanah lebih rendah (60%), temperature udara lebih tinggi (26,5oC). Selain itu perbedaan ada pada tekstur tanah yang dimiliki masing-masing ekosistem juga berbeda.
Perbedaan jumlah komponen biotik akan mempengaruhi kompleksitas dari daur energi dan materi pada masing-masing sistem. Ekosistem kebun yang memiliki komponen biotik lebih banyak akan mempunyai daur energi dan materi yang lebih kompleks. Semakin kompleks daur energi ini maka akan semakin efektif dan efisien daur tersebut.


Kebun:






Halaman:

Daur energi suatu ekosistem dapat dilihat dari rantai makanan yang mungkin terjadi antara komponen biotik yang diperoleh dari hasil pengamatan yang ada. Ada beberapa kemungkinan rantai makanan yang terjadi salah satunya sebagai berikut:
Kupu-Kupu
Kebun:
Beringin
Ketapang
Johar
Glodokan
Cleresede
Kecoa
Jangkrik
Rayap
Serangga Tanah
Nyamuk
Lalat
Semut
Jamur
Cacing

Lumut
 













Nyamuk
Rumput
Halaman:
Rhoe discolor
Rambutan
Beringin
Sawo
Cemara
Rayap
Semut
 











Dari beberapa bagan di atas, pada lokasi kebun komponen rantai makan dan aliran energy tampak lebih komplek dibandingkan dengan lokasi halaman. Pada rantai makanan, tampak bahwa pada lokasi halaman tidak terlihat adanya detritivor hal ini kemungkinan dikarenakan detritivor berurukuran mikro. Komponen berukuran mikro ini misalnya bakteri.
Dari data yang telah kami peroleh, bila sistem di alam ini diharapkan memiliki perkembangan yang bersifat dinamik, maka lingkungan pada lokasi kebun memiliki persyaratan lebih baik untuk perkembangan tersebut. Hal ini dikarenakan beberapa hal sebagai berikut:
1.      Komponen fisik dan biologis yang lebih spesifik dan kompleks
2.      Sedikit dijamah oleh manusia
3.      Minimnya pengaruh Sosio-kultural dan sosio-ekonomis
4.      Komponen-komponen saling berpengaruh secara alami

E.     Kesimpulan dan Saran
1.    Komponen abiotik merupakan komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan. Komponen biotik adalah komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (organisme). Pada lingkungan kebun, komponen abiotiknya yaitu tanah (suhu, pH, kelembaban, struktur tanah, tekstur tanah) dan udara (suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya, kecepatan angin), sedangkan komponen biotiknya, produsen (Beringin, Ketapang, Johar, Glodokan, Cleressede, Lumut), konsumen (Nyamuk, Semut, Kecoa , Cacing, Serangga, Rayap, Jangkrik, Lalat, Kupu-Kupu), dan dekomposer (jamur). Pada lingkungan halaman Lab FMIPA UNY komponen abiotiknya adalah yaitu tanah (suhu, pH, kelembaban, struktur tanah, tekstur tanah) dan udara (suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya, kecepatan angin), sedangkan komponen biotiknya, produsen (Rumput , Rhoe discolor, Beringin, Rambutan, Sawo manila , cemara) dan konsumen (Nyamuk, Semut, rayap).
2.    Keterkaitan atau interaksi antar komponen, yaitu komponen biotik dengan komponen abiotik dapat diwujudkan melalui siklus materi, sedangkan interaksi antar komponen biotik dengan komponen biotik dapat terjadi melalui jaring-jaring makanan.
3.    Dilihat dari segi arus energi, lingkungan kebun merupakan suatu sistem yang dapat dikatakan komplit. Karena komponennya lengkap, yakni jika diperbandingkan antara Kebun Biologi dengan lingkungan halaman Lab FMIPA UNY, komponen biotik pada kebun lebih lengkap, yakni mencakup produsen, konsumen, dan dekomposer.
4.     Lingkungan yang lebih tepat untuk dilakukan pengelolaan lingkungan selanjutnya adalah lingkungan kebun, karena memiliki komponen yang lebih kompleks dan lebih banyak daripada lingkungan halaman, selain itu masih jarang mendapat pengaruh dari manusia dan sosio kulturnya, oleh sebab itu, untuk pengelolaan lingkungan menjaga kelestarian dan keseimbangan komponen yang terdapat di lingkungan kebun lebih perlu dilakukan dari pada lingkungan halaman.

F.      Diskusi
1. Berdasar pada data (makro) yang terkumpul, lingkungan pada lokasi mana yang memiliki komponen lebih banyak?
2. Apakah komponen-komponen yang teramati secara makro pada masing-masing lingkungan cukup untuk memenuhi untuk terjadinya proses aliran energi?
3. berdasar pada kelengkapan komponen tersebut (yang terlihat maupun tidak), lingkungan pada lokasi mana yang memiliki proses arus energi dan siklus materi lebih baik?
4. Bila sistem lingkungan di alam diharapkan memiliki perkembangan yang bersifat dinamik, maka di lokasi mana yang memenuhi persyaratan untuk itu?

Jawab:
1. Yang memiliki komponen lebih banyak adalah ekosistem kebun
2. Ya, komponen yang teramati secara makro cukup untuk memenuhi proses aliran energi mulai dari produsen sampai detrivor.
Komponen yang sebenarnya ada tapi tak teramati secara makro adalah bakteri pendekomposisi.
3. Lingkungan yang memiliki proses arus energi lebih cepat adalah yang di halaman karena komponennya lebih sedikit sehingga siklus energi akan berjalan singkat dengan energi terbuang yang minim.
4.  Sistem lingkungan yang perkembangannya dinamis dapat terjadi di lingkungan Kebun Biologi, karena :
1.      Komponen fisik dan biologis yang lebih spesifik dan kompleks
2.      Sedikit dijamah oleh manusia
3.      Minimnya pengaruh Sosio-kultural dan sosio-ekonomis
4.      Komponen-komponen saling berpengaruh secara alami


















Daftar Pustaka

Anonim.2000. Susunan dan Macam Ekosistem. Diakses pada tanggal 11 Maret 2014.
Campbell NA, Reece JB.2009. Biology. USA: Person Benjamin Cummings
Hutagalung, RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta : Erlangga
Soeriaatmadja, RE. 1975. Ilmu Lingkungan. Bandung : Universitas ITB
Solomon EP, Martin DW, and Berg Linda R. 2008. Biology.8th.Ed. Belmont :Thomson Brooks/Cole

Tidak ada komentar:

Posting Komentar